Jumat, 04 Juni 2010

Akbid Cipto Mangunkusumo;




Akbid Cipto Mangunkusumo;
Teruji Sebagai Pionir


Pusdiknakes, Jakarta - Time makes everything. Jika di-Indonesiakan, mungkin sah saja berarti ‘tua-tua keladi, makin tua makin berisi’. Dan satu institusi yang pantas menyandang pernyataan tersebut adalah Akademi Kebidanan Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Perjalanan waktu, mengasah insitusi pendidikan di kawasan Pulo Mas ini sarat dengan prestasi. Bukan sembarang prestasi, melainkan prestasi sebagai pionir.

Menjadi pionir, tentu membutuhkan modalitas. Pun, merupakan seni bagaimana mewujudkan cita-cita dengan tidak semata mengandalkan kemampuan fisik dan mental, tapi juga melibatkan proses pembelajaran atau learning organization di dalamnya. Dan, Akbid Cipto Mangunkusumo telah membuktikan kemampuannya.

Berawal dari SPR, SPK (1976 - 1996), lalu Akbid (1996 - sekarang), kini institusi pendidikan bagi bidan ini sedang mempersiapkan diri bergabung menjadi politeknik. Tentu saja, perjalanan tersebut tak lepas dari sumbang-pikir para pengelolanya. Ditemui pusdiknakes.or.id (31/8), pimpinan Akbid Cipto Mangunkusumo Dra Jumiarni Ilyas mengatakan, perjalanan SPK Cipto Mangunkusumo menjadi Akademi Kebidanan awalnya merupakan pilot project.

“Selain Akbid Cipto di Jakarta, pilot project ini juga dilakukan di Padang, Surabaya, Bali, Ujung Pandang dan Banjarmasin. Namun mengingat Akbid Cipto terletak di pusat pemerintahan, di mana terdapat banyak sumber daya, maka disepakati Akbid Cipto menjadi sumber informasi, penggerak dan penghimpun teman-teman di daerah,” ucapnya.

Uniknya, meski merupakan pilot project namun para pemikirnya harus berpacu dengan waktu. Mengingat, kurikulum belum rampung namun SK-nya sudah terbit. Dalam kondisi ini, tutur Dra Jumiarni, tim perumus ‘Akademi Kebidanan’ mesti bekerja dengan segala sumber yang ada.

Program Khusus

Akbid Cipto Mangunkusumo memiliki beberapa program. Pertama, program pendidikan reguler dengan sasaran lulusan SMU. Meraka diarahkan pada keterampilan klinik dan kemampuan manajerial. Sementara pada program khusus, keterampilan klinik yang telah ada makin dipoles, namun sasaran utamanya adalah meningkatkan kemampuan manajerial. Peserta program khusus ini adalah lulusan D1 Kebidanan.

Ada pula program khusus lainnya yang dikembangkan Akbid Cipto, yaitu program peningkatan SDM Akbid seluruh Indonesia. Program ini diperuntukkan bagi guru bidan senior, pimpinan sekolah atau dosen S1 dan S2 di bidang lain (keperawatan, kesehatan masyarakat-red), namun memiliki latar belakang D1 kebidanan. “Mereka diberi kesempatan untuk memenuhi kualifikasi pengajar D3,” cetus Dra Jumiarni.

Program ini dikembangkan mengingat kualifikasi dosen untuk akademi, minimal lulusan S1 atau D4. Masalahnya, program S1 Kebidanan belum ada di dalam negeri, sementara untuk D4 baru terdapat di Universitas Gadjah Mada (UGM). Tapi ada alasan strategis lain, yaitu peningkatan kualitas bidan Indonesia serta instruktur/dosen kebidanan, pengakuan dalam bentuk status dalam struktur kepegawaian bagi para dosen kebidanan, dan antisipasi perubahan akademi-akademi kesehatan menjadi politeknik.

Hingga kini, program pendidikan bagi para dosen D3 Kebidanan di Akbid Cipto telah diikuti peserta dari Kendari, NTT, Sulawesi Selatan, Bali, Jawa Barat, Jakarta, Lampung, Jambi dan Palembang. Dengan jumlah lulusan sebanyak 42 orang. Pada akhirnya, program peningkatan SDM Akbid Kebidanan Cipto Mangunkusumo ini diikti pula oleh Akbid di Bandung, Padang dan Surabaya.

Masalah yang dirasakan masih menggayuti program ini adalah kelembagaannya. Akibatnya, dana yang digunakan masih berupa dana masyarakat, dosen pengajar masih dibayar layaknya guru, terbatasnya pengembangan keilmuan, serta masalah pengakuan.

sumber:www.google.co.id/searchresult

0 komentar:

Poskan Komentar